72-ketapang-kencana-terminalia-mantaly

MENGENAL SOSOK AISYAH SULAIMAN

Pulau Penyengat – Tanjungpinang (Kepulauan Riau), pada tahun 1870-an lahirlah seorang tokoh Wanita yang paling berani berbicara tentang persetaraan gender  yang  bernama Aisyah Sulaiman yang memiliki nama asli Raja Aisyah Sulaiman. Melalui beberapa karyanya, Raja Aisyah dianggap sebagai feminis dalam kesetaraan gender.  Beliau merupakan Cucu dari seorang Penulis besar, Raja Ali Haji, yang juga merupakan seorang Pahlawan Nasional. Raja Ali Haji terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu dan Bahasa Melayu standar itulah yang pada Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia.

Raja Aisyah Sulaiman dilahirkan dalam keluarga bangsawan, jadi ia merupakan sebuah kelebihan yang membolehkan dirinya mendapat akses ilmu serta mampu mengarang sejak usia muda. Walau bagaimanapun, Raja Aisyah tidak tenteram hidupnya kerana keadaan kompleks istana dan jiwanya ingin bebas. Apatah lagi, dia sering diasak dengan masalah perkahwinan dan adat resam yang menyekat kebebasan wanita. Kedudukan wanita sangat daif dalam masyarakat patriaki Melayu pada waktu itu walaupun sudah melalui proses defeudalisasi.

Sejak usia muda, Aisyah Sulaiman sudah menulis, hanya saja tradisi saat itu menuntut untuk menyembunyikan jati diri seorang pengarang/penulis, oleh karena itu sulit sekali untuk menemukan karyanya yang ditulis pada usia belasan.

Aisyah Sulaiman menikah dengan Raja Khalid Hitam yang merupakan saudara sepupunya, Raja Khalid Hitam juga seorang penulis diantara karyanya : syair perjalanan Sultan Mahmud Lingga ke Johor yang diterbitkan pada tahun 1893 dan dan Thamaratul Matlub fi Anwil Kulub yang diterbitkan tahun 1896. Selepas menikah, keinginan Raja Aisyah untuk terus menulis tetap tidak surut. Bahkan ketika Raja Aisyah harus mengikuti suaminya ke Singapura pada Februari 1911 karena terjadi suksesi di Kesultanan Riau Lingga antara Sultan Abdul Rahman dan Belanda. Pada tahun 1913 Raja Khalid Hitam berangkat dari Singapura ke Jepang untuk menggalang dukungan

Pada 11 Maret tahun 1914 Raja aisyah mendengar kabar bahwa  Raja Khalid Hitam Meninggal Dunia di tokya – jepang. Raja Aisyah tidak percaya akan kabar tersebut, sehingga Ia tetap menyajikan makanan dan minuman untuk menunggu suaminya yang memang biasa meninggalkan rumah selama beberapa hari bahkan minggu. Ketidakpercayaan  Aisyah  Sulaiman terhadap kematian suami tercintanya juga tergambar dalam Syair Khadamuddin:

Beberapa Kabilah bersamanya itu

Berjalan darat ke negeri ratu

Tiba-tiba datang perompak di situ

Menyamun merampas tiada tentu

Ada melawan ada yang lari

Khadamuddin muda bestari

Bersama-sama membawa diri

Di suatu gua di dalam albari

Syahdan adapun mereka itu yang lari

Ada setengah balik ke negeri

Mendapatkan Khadamuddin ampunya isteri

Berkabarkan suaminya dibunuh pencuri

Dengan dalilnya bukan suatu

Tiap-tiap orang mensaksikan begitu

Sahlah mati saudagar itu

Dibunuh penyamun di atas batu”

Raja Khalid Hitam adalah juga seorang pedagang. Raja Khalid Hitam mempunyai kedai di Singapura yang menjual barang-barang dalam bentuk eceran kepada orang-orang Jepang yang kala itu sudah ramai di nusantara. Tampaknya Raja Aisyah menggunakan status saudagar ini untuk menggambarkan suaminya dalam Syair Khadamuddin. Dalam Syair Khadamuddin dikisahkan tentang seorang saudagar yang meninggal karena dibunuh perompak.

Dalam karirnya sebagai sebagai pengarang. Aisyah Sulaiman menghasilkan empat buah karya, yaitu Hikayat Syamsul Anwar, Hikayat Khadamuddin yang di terbitkan pada tahun 1926 M, Hikayat Syarif Al-Akhtar, dan Syair Seligi Tajam Bertimbal



Sumber : https://www.rancah.com/tokoh/60262/mengenal-tokoh-penulis-pulau-penyengat-siti-aisyah-raja-sulaiman-part-1/#ixzz6XcPcYoju