106-metode-penelitian-pengertian-tujuan-jenis

Pemanfaatan Limbah Kulit Durian

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT DURIAN (Durio zibethinus Murr) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Malassezia furfur

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional masih selalu digunakan masyarakat di Indonesia terutama di daerah pedesaan yang masih kaya dengan keanekaragaman tumbuhannya. Selain murah dan mudah didapat, obat tradisional yang berasal dari tumbuhan pun memiliki efek samping yang jauh lebih rendah tingkat bahayanya dibandingkan obat-obatan kimia. Obat tradisional Indonesia masih sangat banyak yang belum diteliti, khususnya yang sebagian besar berasal dari bahan tumbuhan (Wayan, 2004).

Salah satu tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah buah durian (Duriozibethinus Murr).Buah durianyang sering dikonsumsi selama ini hanya bagian daging buanya saja,ternyata jika dilihat kegunaan durian bukan hanya dagingnya yang bisa diamnfaatkan, tetapi juga ditemukan berbagai manfaat dari kulit durian yang sering dibuang, sehingga menjadi sampah yang pada akhirnya membusuk.

Hasil penelitian Pratiwi (2008) mengatakan senyawa fitokimia dapat berkhaisat sebagai antijamur seperti alkaloid saponin tanin fenolitik, flavonoid dan tirterpenoid.Senyawa fitokimia sebagai antijamur yang berasal dari tanaman sebagian besar diketahui merupakan metabolit sekunder tanaman terutama golongan fenolik dan terpen dalam minyak atsiri. Minyak atsiri adalah zat biologis aktif sebagai antibakteri dan antijamur sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan pengawet pada makanan dan sebagai antibiotik alami. Salah satu tanaman yang memiliki senyawa tersebut adalah tanaman buah durian

Manusia mempunyai berbagai jenis penyakit kulit, salah satunya adalah penyakit panu (Ptyriasis versikolor). Panu merupakan salah satu mikosis superficialis yang disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Penyakit panu mempunyai ciri-ciri berupa bercak-bercak putih atau kemerahan, biasanya terdapat dibadan dan dapat menyebar kewajah disertai gatal bila berkeringat (Bingar, 2013).

1

2

Dari latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian Pemanfaatan Limbah Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) Dalam Menghambat Pertumbuhan Malassezia furfur.

3

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mengatasi permasalahan infeksi jamur dengan memanfaatkan limbah kulit durian.

Tujuan Penelitian 1.3.1Tujuan Umum

Untuk menenentukan apakah ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr) dapat menghambat pertumbuhan Malassezia furfur.

1.3.2Tujuan Khusus

Untuk menentukan besar zona hambat yang dihasilkan ekstrak kulit durian terhadap pertumbuhan Malassezia furfur

Manfaat Penelitian

Bagi Penulis

Untuk menambah pengalaman, ilmu, wawasan dan pengetahuan tentang ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr) yang dapat menghambat pertumbuhan Malassezia furfur.

Bagi Institusi Pendidikan

Menambah referensi perpustakaan SMK Abdurrab Jurusan Analis Kesehatan Pekanbaru khususnya dalam bidang mikrobiologi.

Bagi Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang khasiat kulit durian sebagai antijamur

4

 

BAB II TINJAUANPUTAKA

  • Durian
    • Klasifikasi durian

Menurut Uji (2005) taksonomi tanaman durian

yaitu:

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Divisio : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Dileniidae

Ordo : Malvales

Familia : Bombacaceae

Genus : Durio

Spesies : Durio zibethinus Mur

 


Morfologi Durian

Gambar 2.1 kulit buah durian.

Durian merupakan tanaman daerah tropis, karenanya dapat tumbuh baik di Indonesia. Panjang buah durian yang matang bisa mencapai 30-45 cm dengan lebar 20-25 cm, dan berat antara 1,5-2,5 kg. Setiap buah berisi 5 juring yang di dalamnya terletak 1-5 biji yang diselimuti daging buah yang berwarna putih, krem, kuning, atau kuning tua. Tiap varietas durian menentukan besar kecilnya ukuran buah, rasa, tekstur, dan ketebalan daging (Widhi, 2009).

4

5

Tanaman durian dihabitat alami tumbuh tahunan hingga mencapai ratusan tahun. Pohonnya berkayu dapat mencapai ketinggian 50 meter atau lebih, bercabang banyak segitiga. Setiap percabangan tanaman durian tumbuh mendatar atau tegak membentuk sudut 30-40 tergantung pada jenis. Daun berbentuk bulat memanjang dengan bagian ujung runcing, bagian tengah daun bersela-sela dan tumbuh secara tunggal dan daunnya agak tebal, permukaan daun berwarna kecoklat-coklatan, bunga durian berwarna putih dan setiap pohon durian berbunga sangat banyak mencapai 100 kuntum bunga. Buah durian berbentuk bulat atau lonjong dan tidak teratur, ukuran kecil sampai besar, kulitnya berduri bagian dalam berongga atau beruang yang didalamnya berisi biji terbungkus oleh daging buah (Bernard,2009).

Kulit Durian

Selama ini masyarakat hanya mengenal dan mengonsumsi daging buah durian dan bijinya untuk dibuat berbagai macam panganan, misalnya dodol, lempok, campuran kolak, selai, bahan campuran untuk kue, tempoyak (daging buah durian yang diawetkan) dan lain-lain. Sedangkan kulit durian hanya dibuang begitu saja sehingga menjadi setumpuk sampah yang mengakibatkan bau busuk dan mendatangkan banyak kuman, serangga, lalat dan nyamuk yang tentunya akan berujung pada timbulnya sarang dan sumber penyakit (Prabowo, 2012).

Kandungan dari kulit durian yaitu, flavonoid, saponin, unsur selulosa, lignin, serta kandungan pati. Hasil penelitian menunjukkan, kulit durian secara proporsional mengandung unsur selulose yang tinggi(50-60%) dan kandungan lignin (5%) serta kandungan pati yang rendah (5%) sehingga dapat diindikasikan bahan tersebut bisa digunakan sebagai campuran bahan baku pangan olahan serta produk lainnya yang dimanfaatkan. Selain itu, limbah kulit durian mengandung sel serabut dengan dimensi yang panjang serta dinding serabut yang cukup tebal sehingga akan mampu berikatan dengan baik apabila diberi bahan perekat sintetis atau bahan perekat mineral (Afif, 2007).

Kulit buah durian juga mengandung senyawa fenolik, flavonoid, saponin, dan tanin. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah durian dapat

6

digunakan sebagai antijamur. Selain itu, kandungan kimia kulit durian yang dapat dimanfaatkan adalah pektin. Pektin merupakan senyawa yang baik digunakan sebagai pengental dalam makanan. Sehingga pectin yang diperoleh dari kulit durian dapat dimanfaatkan sebagai pengental dalam pembuatan cendol atau dapat dijadikan sebagai tepung dan kulit durian juga dapat digunakan sebagai penolak nyamuk (Afif, 2007)

Malassezia furfur

Malassezia furfur adalah spesies tunggal yang menyebabkan penyakit Ptyriasis versicolor (Panu). Jamur ini menyerang stratum korneum dari epidermis kulit. Jamur Malassezia furfur sangat mudah menginfeksi kulit orang yang selalu terkontaminasi dengan air dalam waktu yang lama dan disertai dengan kurangnya kesadaran akan kebersihan diri dan lingkungan disekitar. Definisi medisnya adalah infeksi jamur superficial yang ditandai dengan adanya makula di kulit, skuama halus, dan disertai rasa gatal (Bingar, 2012)

Malassezia furfur merupakan flora normal dan terdapat pada mukosa dan kulit. Jamur ini berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas, berdinding tebal, dan hifanya berbatang pendek dan bengkok. Malassezia furfur menghasilkan konidia sangat kecil (mikrokonidia) pada hifanya, tetapi disamping itu juga menghasilkan makrokonidia besar, multiseptat, berbentuk gelendong yang jauh lebih besar dari pada mikrokonidia. Nampak untaian jamur (pemeriksaan mikroskop) terdiri dari spora dan hifa yang saling bergabung satu sama lainnya (Bingar, 2012).

  • Klasifikasi Malassezia furfur

Menurut Bingar, (2012) klasifikasi Malassezia furfur sebagai berikut: Kerajaan : Fungi

Divisio : Basidiomycota

Kelas : Hymenomycetes

Ordo : Tremellales

Familia : Filobasidiaceae

Genus : Malassezia

Spesies : Malassezia furfur

7

Gambar 2.2 Jamur Malassezia furfur.

Selain mengakibatkan Ptiriasis versikolor, Malassezia furfur juga dapat mengakibatkan dermatitis seboroik, folikulitis, dan blefaritis. Koloni Malasseziafurfur dapat tumbuh dengan cepat dan matur dalam waktu 5 hari dengan suhu 30-37? C. Warna koloni Malassezia furfur adalah kuning krem (Baillon,2007).

Panu (Ptyriasis versikolor)

Ptyriasis versikolor adalah infeksi jamur superficial yang ditandai dengan adanya macula dikulit, skuama halus dan disertai rasa gatal. Variasi warna lesi pada penyakit ini tergantung pada pigmen normal kulit penderita sehingga dinamakan “versikolor”. Hipopigmentasi yang menghambat tirosinase sehingga dapat mengganggu produksi melanin. Penyakit ini umumnya menyerang badan, sela paha, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala. Penyakit panu adalah penyakit yang menyerang bagian kulit. Penyakit ini bisa diderita oleh siapa saja, baik itu laki-laki maupun perempuan, baik itu anak-anak, remaja maupun orang tua (Elis, 2010).


Panu disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Jamur ini tidak datang dari tanah atau binatang, tetapi ditemukan pada kulit manusia sebagai penghuni tetap pada lapisan atas kulit bersama dengan mikroba lainnya.

Gambar 2.3 Panu (Ptyriasis versikolor).

8

Panu disebabkan oleh spesies Malassezia furfur juga dapat menyebabkan ketombe atau Ptyrosporum ovale yaitu suatu keadaan abnormali pada kulit kepala yang dikarakterisasi dengan terjadinya pengelupasan lapisan tanduk secara berlebihan dari kulit kepala dan membentuk sisik-sisik yang halus. Apabila beberapa faktor pemicu yang dapat mengganggu kesetimbangan flora normal pada kulit kepala, maka akan terjadi peningkatan pertumbuhan jamur tersebut. Banyaknya populasi tersebut yang dapat memicu terjadinya ketombe (Elis, 2010).

9

 

BAB III METODE PENELITIAN

Jenis penelitian

Penelitian ini bersifat eksperiment laboratory secara In vitro yaitu melihat daya hambat limbah kulit durian terhadap jamur M. furfur.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2016 di laboratorium Bakteriologi SMK Abdurrab Jurusan Analis Kesehatan Pekanbaru.

Sampel

Sampel yang digunakan adalah kulit durian yang diambil dipasar pagi Pekanbaru dan kemudian dijadikan ekstrak kental.

Alat, Bahan dan Medium Penelitian

Alat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain blender, vacum rotary evaporator, timbangan analitik, gelas ukur, gelas piala, vortex, elenmeyer, botol ekstrak, tabung reaksi, pipet tetes, pipet volumetrik, dan aluminium foil.

Bahan-bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain M. furfur. Ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr , media PDA, metronidazole (kontrol positif), NaCl 0,9% (kontrol negative) dan sebagai bahan dalam pembuatan suspensi, etano 96% sebagai bahan maserasi ekstrak kulit buah durian (Durio zibethinus Murr) dan media yang digunakan pada penelitian ini adalah medium Potato Dextrose Agar (PDA).

9

10

Prosedur Penelitian

  • Sterilisasi
    1. Sterilisasi alat

Cuci alat-alat kaca sampai bersih, keringkan, bungkus dengan kertas padi, sterilkan dalam oven pada suhu 150 - 160°C selama 1 jam dan waktunya cukup keluarkan dari dalam oven dan biarkan dingin (Hasnyimi, 2010).

  1. Pembuatan Media Potato Dextrose agar

Timbang 3,8 gram media PDA, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian sesuai petunjuk kit : 38 gr/L), tambahkan dengan 100 ml akuades sambil dikocok, panaskan hingga larut, tutup dengan kapas, sterilkan di dalam autoclave selama 15 menit pada suhu 121°C, setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave dan tambahkan antibiotik kloramfenikol sebanyak 1ml, homogenkan, masukkan ke dalam petridisk steril (Oxoid, 2012)

3. Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Durian

Pisahkan bagian kulit durian yang berduri dari bagian kulit putih kemudian potong kecil-kecil bagian kulit putih keringkan didalam oven pada suhu 60° C selama 2x24 jam kemudian timbang kulit durian sebanyak 500 gram dan rendam dengan etanol 96%. Maserasi selama 3-4 hari sambil sesekali diaduk. Uapkan pelarut dengan menggunakan vacum rotary evaporator hingga didapatkan ekstrak kental (Dasa, 2015).

4. Pembuatan Larutan Mc. Farland

Pipet larutan H2SO4 1% sebanyak 9.5 ml, masukkan ke dalam tabung reaksi, tambahkan larutan BaCl2.2H2O 1,175% sebanyak 0.5 ml, kemudian homogenkan (Soemarno, 2001).

11

5. Pembuatan Suspensi Jamur

Ambil satu ose koloni strain jamur, kemudian suspensikan dalam tabung yang berisi NaCl 0,9% steril sampai kekeruhan sama dengan larutan standar Mc. Farland (Soemarno. 2001)

Pengujian Daya Hambat Bakteri

  1. Penanaman Pada Media Potato Dextrose agar
    1. Celupkan kapas lidi kapas steril ke dalam suspensi jamur yang sudah distandarisasi kekeruhannya, tunggu sampai meresap ke dalam kapas. Kemudian kapas lidi diangkat dan diperas dengan menekankan pada dinding tabung bagian dalam sambil
    2. Goreskan kapas lidi tersebut pada media Potato Dextrose Agar plate dengan memutar cawan petri sampai permukaan media tertutup rapat
    3. Biarkan media selama 5 - 15 menit supaya suspensi jamur meresap ke dalam agar (Jawetz, 2000).

2. Penempelan Disk

  1. Penempelan pada Potato Dextrose Agar plate dilakukan secara manual satu-persatu dengan
  2. Siapkan ekstrak limbah kulit durian, kontrol positif (metronidazole), dan kontrol negatif (NaCl 0,9%).
  3. Ambil disk kosong dan celupkan ke dalam ekstrak limbah kulit durian letakkan pada permukaan media Potato Dextrose Agar yang sudah ditanam furfur dengan sedikit ditekan.
  4. Ambil disk kosong dan celupkan ke dalam metronidazole (kontrol positif) dan NaCl 0,9% (kontrol negatif) dengan menggunakan pinset letakkan pada permukaan media Potato Dextrose Agar yang sudah ditanam furfur dan tekan sedikit.
  5. Jarak antara disk yang satu dan disk yang lain tidak kurang dari 2 cm.
  6. Kemudian inkubasi dalam inkubator selama 2-5 hari pada suhu 30o C (Soemarno, 2001).

12

3. Pembacaan Zona Hambat

  1. Amati zona hambatan yang terjadi di sekeliling disk dan ukur panjang diameternya dengan jangka
  2. Jika terdapat zona hambatan di sekeliling disk, berarti ekstrak kulit durian memiliki kandungan zat aktif sebagai antijamur terhadap furfur
  3. Jika tidak terdapat zona hambatan di sekeliling disk, berarti ekstrak kulit durian tidak memiliki kandungan zat aktif sebagai antijamur terhadap furfur.

AnalisaData

Data disajikan dalam table distribusi frekuensi dan dianalisis secara deskriptif. Analisa data deskriptif dilakukan untuk memperoleh gambaran pada setiap variable dari hasil penelitian.

13

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Pemanfaatan limbah kulit durian terhadap jamur M. furfur dilakukan menggunakan pelarut etanol 96%, metronidazole sebagai kontrol positif, kontrol negative yaitu NaCl 0,9%. Hasil pengukuran diameter zona hambatan dapat dilihat pada Tabel 4.1.


Tabel 4.1 Hasil Uji Daya Hambat Ekstrak Kulit durian (Durio zibethinus Murr) Terhadap Pertumbuhan Jamur Malassezia furfur

Zona Hambatan

Pengujian

Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3

Rata-rata

Kulit durian

8 mm

11 mm

9 mm

9,3 mm

NaCl 0,9 (-)

6 mm

6 mm

6 mm

6 mm

Metronidazole (+)

11 mm

10 mm

11 mm

10,7 mm

Berdasarkan tabel 4.1 diatas, dapat dilihat zona hambatan yang terjadi pada limbah kulit durian memiliki rata-rata 9,3 mm, sedangkan pada metronidazole (kontrol positif) memberikan rata-rata sebesar 10,7 mm dan pada kontrol negatif tidak terjadi zona hambat (diameter disk = 6 mm).

Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ekstrak kulit durian dapat menghambat pertumbuhan jamur M. furfur, karna kulit durian mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, fenolik yang dapat menghambat pertumbuhan jamur tersebut (Setyowati, 2013).

Flavonoid, saponin dan tannin yang terkandung dalam ekstrak limbah kulit buah durian termasuk golongan senyawa fenolik. Senyawa fenolik dan saponin bersifat larut dalam air dan mengandung gugus fungsi hidroksil (-OH), sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel dan membentuk kompleks dengan protein membran sel. Kompleks protein senyawa fenolik terbentuk dengan ikatan yang

13

14

lemah, sehingga akan segera mengalami peruraian kemudian diikuti penetrasi senyawa fenolik ke dalam sel yang menyebabkan presipitasi dan terdenaturasinya protein membran sel. Kerusakan pada membran sel menyebabkan perubahan permeabilitas pada membran, sehingga mengakibatkan lisisnya membran sel jamur.

Metronidazole sebagai kontrol positif dapat menghambat pertumbuhan beberapa golongan jamur penyebab penyakit kulit diantaranya Candida albicans, Malassezia sp, metronidazole merupakan antijamur, bekerja menghambat sintesis ergosterol, suatu komponen yang penting untuk integritas sel jamur.

Penelitian yang dilakukan Pratiwi (2008) mengatakan senyawa fitokimia dapat berkhaisat sebagai antijamur seperti alkaloid saponin tanin fenolitik, flavonoid dan tirterpenoid, dengan demikian hasil penelitian tentang pemanfaatan limbah kulit durian yang telah dilakukan, sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ektrak kulit durian mampu menghambat pertumbuhan jamur dengan kata lain ekstrak kulit durian bersifat antijamur.

15

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: Ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr), dapat menghambat pertumbuhan Malassezia furfur penyebab panu yang dibuktikan dengan terbentuknya zona hambat sebesar 9,3 mm.

Saran

  1. Disarankan pada penelitian selanjutnya untuk menggunakan kulit durian (Durio zibethinus Murr) terhadap jenis jamur pathogen yang
  2. Bagi Institusi Pendidikan agar mendapat tambahan ilmu dan berbagai pengetahuan tentang pemanfaatan limbah kulit buah durian (Durio zibethinus Murr) serta dapat mengembangkan ilmu dan pengetahuan lainnya.
  3. Disarankan pada masyarakat untuk memanfatkan kekayaan yang ada di alam, terutama untuk masalah pengetahuan dan

The best emoji picker will help you add small colored character images to your text.